Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Bokep Thailand Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Selera makanku mendadak punah. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Air mataku jatuh tanpa terasa. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sesampainya di rumah, kepalaku




















