Jadi siapa? Bokep Ternyata Kak Tina tidak terpengaruh. Aku tersipu malu. nggak mungkin, nggak mungkin aku ngompol! Saat menyimpan sepatu di samping kamar,
aku mendengar suara perempuan mengerang, mendesah-desah, yang keluar
dari dalam kamarku. Astaga, memang basah! Kak
Tina masih terus menggosok kemaluannya. Aku
menyumpah-nyumpah. Setelah makan, seperti biasa aku dan Kak Tina
menuju kamar kami. Sesampainya di rumah keadaan memang sangat sepi. nggak mungkin, nggak mungkin aku ngompol! Bukan, beliau orang baik (sampai
sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu). Anak-anaknya
dibawa semua. Beratkupun saat itu belum sampai 40 kilo. Kak Tina nafasnya tak teratur
saat membaca bagian yang menceritakan permainan cinta Marisa dengan
beberapa laki-laki. Kamipun duduk di pinggir tempat tidur. Aku tidak diijinkannya
membaca novel-novel stensilan itu. Entah ide dari mana, pelan-pelan tanganku
menyentuh dadanya.




















