Aku masih mematung. Bokep Asia “Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah.“Oh ya. Kuusap sisa cream. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh.Ia menekan-nekan agak kuat. Ah sialan. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Ah. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Hap. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Aku tidak berpakaian kini. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah.




















