Tapi Diah menutup pahanya dan aku hanya bisa memperhatikan dua bongkah pantat yg mulus dan menantang. XNXX Jepang Motel ini sangat lux dan biayanya tak mahal-mahal sekali. Dijamin nggak diapa-apain dech…” bujuk aku.“Itu yg aing takutin, nggak di apa-apain…” jawab Diah.Eh, nantang nich.Akhirnya dia setuju juga diantarkan oleh kami. Si Diah sendiri berasal dari Jakarta.Tapi beda dengan yg lain, si Diah ini lebih pendiam. Hmmm… sangat halus. Pokoknya ribut sekali. Biasanya aku memberikan ramalan yg jitu dulu baru bertanya hal tersebut, jadinya mereka telah percaya dengan aku. Sekarang di ruangan yg terang benderang baru aku sadari kalau si Diah ini cakep sekali.Kulitnya putih mulus. Terlihat Diah berjalan menuju lobby dan merokok di sofa yg terletak dekat pintu masuk.“Hai… ngapain disini?” tanya aku.Diah menatap tajam ke aku.“Panas di dlm… mau cari udara seger,” jawab dia.Habis itu aku memancing dia dengan pertanyaan-pertanyaan seputar dia, tapi jawaban dia hanya singkat-singkat saja, aku memutar otak.“Boleh memperhatikan telapak tangan ente?” tanya aku,




















