Aku hanya bisa menelan ludah saat itu dan berhayal seandainya aku bisa memeluk tubuh yang sexy itu betapa beruntungnya diriku.“Hai.. Bokeb Sayang..” desahnya pelan. Diet.. “Oh iya, kita sudah lama ngobrol nih tapi belum mengenal nama masing-masing diantara kita” sahut Linda spontan. Sepertinya Linda sangat senang dengan pendapatku yang demikian, hal itu terlihat dari sikapnya yang terpancar lewat senyumnya yang mengembang.“Makasih ya Diet.. Kamu sudah mau menjadi teman curhatku,” sahut Linda kemudian. Aku hanya tersenyum sambil mengatakan, “Saat ini aku sudah bisa membuat kamu tersenyum, mungkin saat lain kamu yang akan membuatku tersenyum.” timpalku pelan.Tak terasa kedekatan ini membuat tubuh kita semakin dekat, aku mendahuluinya dengan merengkuh tubuhnya untuk merapat ke pelukanku. Aku sudah berdiri di depan kamarnya dan kemudian aku mengetuk pintunya. Diet.. Tanpa menunggu lama lidahku langsung mengecup permukaan payudara Linda dengan lembut dan pelan. Sayang..” pintanya mesra.Sambil merangkak aku kembali menciumi bibir Linda yang terbuka, karena menahan rangsangan yang hebat.




















