“Kenapa, Jen?”
“Maaf ya, semalam aku kurang ajar sama kamu.” sambungnya, “Maaf juga soalnya aku biarin temanku tadi masuk.”
“Nggak apa-apa Jen.” jawab saya berusaha maklum, “Semalam itu.. Saya terpaku di bibir ranjang sambil memegangi cangkir teh yang sudah kosong, seolah tidak tahu harus berbuat apa. Bokep Jepang Saya menurut saja, meski merasa agak gila. Sampai saya mencengkeram tengkuknya agar mulutnya tidak lari dari puting saya. Ohh, saya tidak tahu apa yang dilakukannya di bawah sana, tapi rasanya sungguh nikmat. “Eits, mau balas dendam ya? Puting-puting saya yang selama ini coklat tua, kini jadi berwarna merah daging, dan begitu besar. Hmm, Indonesian name, isn’t it?” tanyanya lagi, dengan nada datar. Badan saya menggelinjang-gelinjang hebat, punggung saya terangkat-angkat dari ranjang karena tidak kuat menahan enaknya permainan ini. Dengan was-was saya melirik ke arah buffet tempat pistolnya berada, dan merasa agak tenang karena pistol itu masih ada di situ.




















