Tiga jam sudah aku memandangnya dari luar toko, hujan masih turun dengan lebatnya seolah ada lautan di langit sana yang gak pernah habis memuntahkan airnya.Setelah mendapatkan beberapa pakaian, Sava sepertinya sudah puas berbelanja dan membayarkan ke meja kasir. Lidahku menelusup liang vaginanya, lalu kembali menjilati sisi-sisi vaginanya. XNXX Bokep Hangat, begitu hangat, kami biarkan tubuh kami terdiam dalam pelukan selama beberapa saat. Lenguhan halus terdengar dari bibirnya. Sava mengikuti, menghempaskan tubuhnya menindihku dengan manjanya, hingga membuat aku sedikit tersentak.“JEGUEEEEERRRRRRR !” suara petir mengagetkan kami, awan semakin pekat, hembusan angin semakin kencang. Daun pisang sebagai satu-satu pelindung kami, sudah tak mampu lagi menahan derasnya air yang turun, kami sudah benar-benar basah kali ini. Aku hirup lekat-lekat aroma khas vagina yang baru aku rasakan.“Sluuurrrruuuuppppsss,” secara naluri lidahku langsung mengkuas vagina Sava, liurku seketika itu langsung berlumuran.“AAaakkkhhhhh Qora enak bangeeettt,” Sava mengerang, pinggulnya terangkat ke atas, dia memegangi kepalaku lalu mengangkat wajahku.“Kenapa Sava sayang ?”Nafas Sava tersengal, memandangku dengan penuh




















