Pada ketika itulah saya menerima kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Tak pernah saya melihat paha semulus dan seindah itu. Bokep Mama Kadang-kadang ia memekik sambil menjambak rambutku.“Ooh, ooh, Jhony! Telapak kakinya menghentak-hentak di pundak dan kepalaku. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Jangan ada setetes pun yang tersisa! OK?”Aku mengangguk. Bagian mana yang akan kamu cium?”“Betis yang indah itu!”“Hanya sebuah ciuman?”“Seribu kali pun saya bersedia.”Mbak Lia tersenyum manis. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Sepasang bibir yang di bab atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Dan..,” sesudah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.“Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”“Persis menyerupai yang kuduga, kamu niscaya berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Lia sambil sedikit mendorong kursinya.“Agar kamu tidak ingin tau menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”“Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku itu.“Kompensasinya apa?”“Sebagai rasa hormat dan tanda terima




















