Saya luluh akibat gempuran-gempuran Juragan. Enakh… ahh…”“Denokh… uh… nanti kalau udah sampai… kamu njerit yang keras ya?” pinta Juragan di sela-sela nafasnya yang memburu.“Sampai?” Saya bingung apa maksudnya.“Nanti juga kamu… uh… hh… rasa sendiri,” kata Juragan.“Yang seperti… uh… tadi. Bokeb Juragan terus-terusan melihat sekujur tubuh saya, sambil memuji.“Ayo dong, nggak usah ditutupin,” kata Juragan. Dan saya pun jadi makin akrab dengan mereka semua.Saya seperti nyimpan semua rahasia mereka. Kami tak pünya tempat tüjüan, dan üang simpanan kami tak seberapa. Bikin orang nafsu ajah…” saya lihat Juragan nyengir lebar setelah ngomong itu. Sanggul yang belum saya copot (apa seharusnya saya copot juga?) ngganjal belakang kepala saya. Biar aku nebus dosaku ke kamu, Denok.”“Juragan…” saya cuma bisa bilang itu karena masih lemah, sambil berusaha senyum.




















