“Ayo Abang.. Langit bertabur bintang. Bokep China sekarang..”, Miranda tidak kuasa meneruskan kata-katanya. Tapi tidak, tidak. “Hmm.. Abang, Abang udah lega belum?”, ia menjawab pelan pertanyaanku. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. Untung teman-teman sekostnya sudah terlelap sehingga mungkin tak akan terAbangun walau Asmirandah berteriak sekali pun. Kami berciuman kembali, kali ini dengan penuh kelembutan. ILU”, aku mengakhiri percakapan. Ia tidak ingin teman-temannya tahu mengenai siapa ‘kakaknya’ itu, terlebih pada Viandi teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip. Asmirandah sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan membelai pula. Tak mungkin ia bisa melupakannya. Mengerang pelan karena merasakan tubuhku mulai bereaksi seperti biasanya, menyebabkan semua ototku terasa menegang, bagai seorang pelari yang sedang bersiap-siap melesat dari garis start.Kejantananku sudah menegang setegang-tegangnya.




















