Minimal ada pihak ketiga.“Ngga… ngga… ngga..,” tiba-tiba Sandra nyeletuk dengan nada tinggi dan cukup keras mengatasi kebisingan yang ada di kantin ini, saat Ricky hendak duduk di sampingku.“San, sebentar…,” pinta Ricky sejurus kemudian, karena doi juga terkejut dengan ucapan Sandra yang demikian tajam dengan nada tinggi.“Ngga… ngga… eloe ngerokok,” sahutnya ketus.Ricky memandangku meminta persetujuan, tetapi aku sedang malas berdebat, jadi aku hanya angkat bahu dan melanjutkan makan siangku secepatnya, biar tidak terlalu lama.Selesai makan, aku cepat-cepat pergi. Bokep Jilbab/Hijab Tapi udah gue tandain kok. kalau aku benar dalam mempertahankan pendapat tentunya dengan jalan pikiran yang logis, pasti dia mengakuinya.Selama acara P4 yang 2 minggu lebih itu, Irene nempel terus ke aku. Kulitnya putih dengan rambut yang selalu dipotong sebahu. Sialan juga temen-temen yang lain, terlambat membangunkanku. Meja belajar maksudnya.“Mar, jam berapa?” tanyaku, “ngga sabar nich.” sambil tiduran di lantai, sementara lampu di kamar tetap padam dan suasananya hening sekali.“Sebentar lagi, biasanya sich jam-jam segini,” sahutnya bingung.Eh, benar.

















