Saat mataku melirik ke arah dalam lemari es, mencari minuman, kusempatkan untuk melirik sekali lagi ke arah batang kontol Willy. Masak pagi-pagi ngentot disini. Bokeb Mamaku itu memang hebat. Dia juga masih kuliah. Ngapain luh?” tiba-tiba kudengar suara Mimi menegurku. Kepala kontolnya yang kemerahan seperti jamur melewati pusarnya. “Yap,” sahut Willy singkat. sampai 28 senti men, selisih sepuluh senti dari punyaku. Si Mimi tahu tentang hal itu dan dia sih santai-santai aja. Aku jadi menyadari, kalau ternyata saat selangkangannya ditutupi celana seperti itu, ukuran tonjolan diselangkangan itu, memang beda dengan punyaku. Jangankan membelikanku mobil, sepeda motor aja Papa enggak bisa. Apalagi usianya enggak jauh dariku. Mereka tak menghentikan permainan mereka. Ia sudah menyadari kehadiranku rupanya. Obrolan kami nyambung. “Benar Wil?” tanyaku. Berjumpa dengan Willy keesokan harinya aku jadi rada-rada grogi. Cuman, dengar ukuran kontol orang sampai 28 sentimeter kan jelas bikin penasaran. Tapi males ah. Ngapain juga ngeliat saudara kandung sendiri ngentot.




















