Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.Waktu terus berlalu. Vidio Bokep Pusing ah mikirinnya. Tapi photo kita dulu…”Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Sambil merokok, dia tampak lebih rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Boleh saya menumpang?” Diana berteriak kepadaku.“Kemana?”
“Rumah. Rumah saya di dekat situ juga.”
“Boleh saja.” Kataku, “Tapi katanya mau tetap di sini? “Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”. “Iya”. Dia telah semakin akrab denganku.“Kamu sudah punya pacar, belum?” Tanyaku. “Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka. Tadi ikut-ikutan teman-temannya saja. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.“Aahh Mas Ray…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, saya kayaknya udah mau keluar nih…”Diana mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah




















