Saat kembali dari kamar mandi, Bu Rum menyodorkan segelas besar teh manis hangat. Hanya secara sembunyi-sembunyi aku sering mencuri pandang menatapinya. Bokep Arab aaahhh.. Ini rupanya yang disebut itil, pikirku. Kami menyantapnya dengan nikmat. Bahkan saat Bu Rum mulai mengalihkan permainannya dengan menjilati kantung pelirku dan menghisapi biji-biji pelir kontolku, aku tak mampu bertahan lebih lama. Bahkan dua bungkus rokok kegemaranku telah tersedia di meja makan. Ia berdiri dan memposisikan kedua kakinya diantara tubuhku. “Mau lagi Win?” ujarnya mendekat dan berdiri tepat di tempat aku duduk. Aku terduduk menyandar di si kursi sofa tempat Bu Rum terduduk. Keduanya larut dalam permainan panas di dapur, ranjang dan bahkan di kamar mandi tanpa peduli bahwa sebenarnya mereka pasangan ibu dan anak. Muntahkan saja di mulut ibu,” ujarnya sambil langsung kembali menghisap penisku. Aku bak seorang murid baru yang cerdas dan cepat pintar menerima pelajaran.




















