Mereka mengeluarkan beberapa barang berupa bubuk yang lumayan kecil, menghirupnya sedikit, lalu tertawa-tawa. Bokep Montok Di dekat semak-semak, tak terlalu jauh dari tepi jalan, di tempat yang agak gelap. Semoga berkah,” ucap anak laki-laki itu sambil menunduk-nundukkan badannya. Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku. “Woi!” teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar. Adakah yang lebih tabah dari aku? Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Astaga. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Aku mematung di tempatku berdiri. Darah seketika muncrat ke mana-mana. Aku langsung ingin mengutuk diri. Anak laki-laki itu juga ikutan merokok. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya.,,,,,,,,,,




















