Mbak sendiri?” tanyaku, sedikit gugup.“Nggak. Bokep Aku meraba-raba sekeliling dan mencari lilin. Kubiarkan ia terus mengerang dan mengaduh, mendesah. Aku menatap jam dinding. Sudah biasa ditinggal pergi Mas Fredi,” ia menatapku tajam, mengerling sekilas dan berbalik meninggalkanku.“Sudah, ya, aku balik dulu” ia pamit. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Aku terkejut. Ia menghelaku ke kamarku dan menjerembabkan aku ke tempat tidur. Ini membuatnya menggelinjang-gelinjang, mengerang, mendesah dan merasakan nikmat luar biasa dalam tindihanku.Dan kesempatan itu tak kusia-siakan. Lilinku habis.Dan aku jadi ketakutan mendengarkan suara hujan dalam gelap,” kata Mbak Marissa. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Aku ingat itu pintu yang menghubungkan rumahku dengan rumah sebelah. Kami bisa bergumul di mana saja: di kamar hotel, di hutan pinus yang sepi, di pantai yang sunyi, di sebuah dagau kosong di gunung Bromo dan di mana
saja.Aku tak bertemu lagi dengan




















